WORLDVIEW ISLAM
Worldview Islam
Oleh: Achmad Ilham Maulana
achmadilham689@gmail.com
Pendahuluan
Meski setiap orang memiliki cara
pandang masing-masing, sebagai sebuah kesatuan masyarakat yang berbudaya, cara
pandang masing-masing orang akan membentuk cara pandang bersama yang merupakan
akumulasi historis dan kultural tersebut tidak jarang melibatkan faktor lain
diluar keduanya. Intinya, meski setiap pribadi punya cara pandang, namun
akumulasi pandangan sebuah masyarakat dengan kebudayaannya tersebut akan
menjadi penanda identitasnya. Lebih jauh cara pandang tersebut berdampak
terhadap berabagai macam hal; dari ekpresi bahsa hingga ritualitas, dari
makanan hingga alat kehidupan, dari pakaian hingga cara berprilaku. Cara
pandang tersebut dalam kajian kontemporer, dari sains kealaman hingga
antropologi, sering disebut dengan worldview.
Islam sebagai sebuah din (agama)
sekaligus tamaddun (peradaban), sejak awal telah menyimpan sistem worldview
yang bersumber kepada dua rujukan pokoknya, al-quran dan sunnah. Tidak berhenti disitu, keduanya
diolah secara kreatif melalui tradisi intlektual yang panjang, sehingga
worldview islam tidak hanya dipengaruhi oleh faktor historis dan kultural dalam
worlview islam hanyalah faktor sekunder setelah al-qur’an dan sunnah. Karena
hal itu pulalah, jika aspek historis dan kultural adalah faktor yang menjadikan
worldview sebuah masyarakat yang berbudaya bisa mengalami perubahan, maka
al-qur’an dan sunnah menjadi jangkar yang membuat worldview islam memiliki
karakterteristik stabil, permanen, tsawabit dan unchangeable.
Penjelasan woldview
Secara etimologis, worldview terdiri
dari dua kata: world yang berarti dunia, serta view yang berarti
pandangan. Dalam bahsa Indonesia, kata worldview diterjemahkan dalam beberapa
ungkapan, baik pandangan dunia, pandangan alam, maupun pandangan hidup. Adapun
istilah lain dalam bahasa Indonesia yang serupa dengan makna worldview dan
digunakan secara populer adalah falsafah hidup, filsafat hidup, maupun
filosofi.
Secara terminologis, Dr. Hamid Fahmy
Zarkasyi mencoba mengumpulkan definisi dari ninian smart, Thomas F. Wall,
Alparslan Acikgenc, Thomas S. Khun, serta Edwin Hung yang jika diuraikan, maka
worldview memiliki makna-makna sebagai berikut. Pertama, world view
adalah sistem kepercayaan asasi yang integral didalam diri manusia. Kedua, dimensi
worldview meliputi pikiran dan perasaan manusia. Ketiga, worldview
berguna memberi penjelasan mengenai realitas dan makna eksistensi. Keempat, worldview
berperan dalam keberlangsungan dan perubahan moral dan sosial. Kelima, worldview
menjadi asas perilaku manusia termasuk aktivitas ilmiah dan teknologis. Keenam,
worldview adalah faktor penting dalam penalaran saintifik, yang dalam
kajian sains serupa dengan paradigma, menyediakan nilai, standar dan
metodologi.
Penjelelasan worldview islam
dalam buku worldview islam yang
mengutip dari bebrapa definisi yang dikumpulkan hamid dari quthb, al-zain,
al-maududi, al-attas dan acikgenc, maka pengertian worldview islam adalah. Pertama,
worldview islam bermula dari kesaksian (syahadah) akan keesaan Tuhan
(tawhid). Kedua, dari tauhid tersebut terbentuklah satu gugusan
keyakinan asasi yang lebih kompleks di dalam mata hati, pikiran dan perasaan
seorang muslim. Ketiga, keyakinan asasi tersebut menjadi operasional
karena ditopang oleh akal dan bersifat rasional, serta menjadi gugusan
pemikiran yang bersifat arsitektonik.
Kempat, keyakinan asasi yang rasional tersebut menjadi cara pandang (visi)
muslim yang bersangkutan mengenai realitas dan kebenaran, serta menjelaskan
mengenai wujud (eksistensi) yang tampak maupun yang tidak tampak. Kelima, pada
gilirannya keyakinan asasi tersebut berubah menjadi asas perilaku manusia baik
yang beesifat personal dan sosial, maupun ilmiah dan teknologis. Keenam, puncaknya
keyakinan asasi tersebut menjelma menjadi sistem tata aturan yang lebih
kompleks lagi (nidzam) yang di terapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam kalangan ulama-ulama
kontemporer istilah worldview islam adalah menurut hasan al-hisyari dan sayyid
quthb (1906-1966)menyebut at-tashawwur al-islamy li al-wujud (pandangan
islam tentang keberadaan). Ismail ar-razi al-faroqi (1921-1986) menyebut nadzrah
islamiyyah ila al-waqi (prespektif tentang realitas). Syed Muhammad naquib
al-attas (lahir 1931)menyebutnya ru’yat al-islami li al-wujud (visi
islam tentang keberadaan).
ketiga istilah itu merujuk pada
sekumpulan gagasan yang menjadi pijakan manusia dalam memandang alam semesta
dan kehidupan. Karena itu secara umum, ketiga ulama dan pemikir besar itu
sepakat, pandangan hidup dalam islam bermuara pada akidah yang menentukan sikap
manusia ditengah ralitas wujud. Keyakinan itu kemudian membuat ketundukan
kepada hukum-hukum allah dan rasulnya, berkenaan dengan baik buruk, serta boleh
tidak boleh dilakukan dalam hidupnya; yang atas dasar itulah dia berpikir,
berperasaan, bersikap dan bertindak sehingga memiliki gaya hidup yang khas
sesuai ajaran agamanya.
at-tashawwur al-islamy li al-wujud (pandangan islam tentang keberadaan) adalah sekumpulan keyakina
mendasar dalam akal dan hati seorang muslim yang menjadi cara pandanganya,
dalam melihat keberadaan alam ini, dan dalam memandang dzat yang ada dibalik
alam ini, yiatu allah maha kuasa yang telah menciptakan dan mengaturnya, serta
hubungan antara keberadaan alam itu dengan allah yang maha berkehendak.
ru’yat al-islami li al-wujud (visi islam tentang keberadaan) adalah worldview islam meliputi
dunia dan akhirat. Aspek dunia harus terhubung secara mendalam dan tak
terpisahkan dengan aspek akhirat. Aspek akhirat memiliki nilai mendasar (ultimate)
dan penghabisan (final). Aspek dunia persiapan untuk aspek akhirat,
sehingga segala hal dalam islam secara mendasar terfokus pada aspek akhirat
tanpa mengakibatkan prilaku yang lalai atau tidak peduli terhadap aspek dunia.
Penutup
Secara garis besar dasr worldview
islam adalah islam iman dan ihsan. jika dalam diri manusia telah diisi oleh
islam ketika itu berarti islam telah sempurna menjadi pandangan hidupnya, akan
tetapi islam tanpa iman akan mudah untuk diruntuhkan, karen iman merupakan buah
dari pembenaran bathin yang merupkan asal keimanan, penguat, penyempurna dan yang
memeliharanya. Dan iman akan menjadikan sesorang beramal dengan ihsan, karena
iman dan amal adalah dua sisi mata uang, iman akan melahirkan amal dan amal
akan menguatkan iman.

Comments
Post a Comment