Resensi Jurnal: The Ahl al-kitab conception in islam: Dialogue with religious pluralisme proponents
Resensi Jurnal
The Ahl al-kitab conception in islam: Dialogue with religious
pluralisme proponents
(مفهوم أهل الكتاب في الإسلام: الحوار مع
أنصار التعددية الدينية)
Oleh: Achmad Ilham Maulana
Latar belakang
Jurnal ini di tulis karena melihat
adanya kekeliruan dalam memaknai ahl al-kitab, yang mana pembahasan ini
berkaitan dengan paham pluralisme agama, mereka memahami ahl al-kita adalah
siapa saja yang memiliki kitab suci. Pendapt tersebut berbeda dengan para
mufassir klasik, seperti al-thabari
berpendapat bahwasannya ahl al-kitab adalah Yahudi dan nasharani. Maka dari itu
pembahasan ini akan di bahas dalam jurnal ini yakni ingin mengungkap makna ahl
al-kitab menurut al-quran dan sunnah nabi, dan juga mengambil rujukan dari
buku-buku karya muslim klasik dan karya muslim kontemporer yang mengusung paham
pluralisme agama, guna untuk dibandingkan dan mengambil kesimpulan bagaimana
ajaran islam tentang ahl al-kitab.
Isi Jurnal
Dalam jurnal ini penulis memparkan
pembahasannya dengan meklasifikasikan sesuai Bab, penelitian ini memiliki empat
Bab.
Bab pertama adalah pendahuluan, yang
mana bab ini berisi dengan permasalah akademik yang membuat penulis meneliti
penelitian ini, yakni permasalahannya adalah adanya kekeliruan dalam memahami
ahlu al-kitab yang bertentangan dengan ulama salafu as-shalih dengan penganut
paham pluralisme agama.
Bab kedua adalah berisi penjelasan
mengenai makna ahlu al-kitab, dengan refrensi dari kamus-kamus bahasa arab, para
ulama dan al-qur’an, sehingga membuat kesimpulan bahwa makna ahlu al-kita
adalah umat beragama yang memiliki kitab suci dari allah dan rasulnya.
Bab ketiga adalah penejelasan makna
ahlu kitab dari kaca mata pluralis agama, sperti Nurkholis majid, Huston Smith,
Fritjof Schoun, John Hick, Fatimah
Usman, Zuhairi Mishrawi, yang mana inti dari pendapat mereka adalah semua
pemeluk agama-agama itu disebut dengan ahlu al-kitab, termasuk agama budha,
majusi, Yahudi, nashrani, shabiin, hindu, Konghucu dan sinto, dan menurutnya
semua agama-agama tersebut mempunyai surga masing-masing di akhirat nanti. Kemudian
penulis disini memunculkan beberapa mufassir dan cendikiawan muslim, untuk
menjelaskan agama sobi’in dan dan majusi. seperti Ibnu Katsir, Ibnu Jarir
At-thabari, Ibnu A’syur, Muhammad Rasyid Ridho, Ibnu al-jauzi, al-qurtubi dan juga
sperti as-sharastani.
Bab ke empat menjelaskan ahlu
al-kitab dalam pembelajaran islam, yakni menurut al-qur’an dan sunnah nabi.
Penjelasan ini terdiri dari dua sub Bab. Pertama adalah ahlu al-kitab
menurut al-qur’an, dan sub Bab ini sendiri terbagi tiga kelompok ialah: (i)kafara
ahlu al-kitab, yakni bahwasannya kafara ahlu al-kitab adalah mengingkari
ayat-ayat allah, dan meningkari aqidah tauhid, menolah janji allah, membunuh
para nabi-nabi, mereka berusaha dalam me murtadkan umat muslim dari agamnya dan
mereka menyembunyikan dan mengingkari kenabian muhammad saw. (ii) syirku ahlu-
alkitab yakni mereka salah mengartikan tentang aqidah at-tauhidiyyah dan mereka
memberikan respon penolakan terhadap perintah allah dan juga mereka menyerukan
kemungkaran dan kesesatan. (iii) shalahu ahlu al-kitab yakni ummatun Qoimah:
kepercayaan mereka kepada allah dan menimani nabi Muhammad adalah utusan allah
dan masuk kepada agama islam. Sub Bab kedua, ahlu -al-kitab menurut
sunnah nabi, ialah agama Yahudi dan nashrani.
Bab kelima adalah penutup yang
berisi kesimpulan penulis yakni Alasan pendukung pluralisme agama adalah
bahwasannya “ahlu al-kitab” melingkupi seluruh umat dan agama-agama yang dulu
hingga saat ini. Paham tersebut hanya didasari dengan akal saja tidak di dasari
dengan al-qur’an dan sunnah. Sedangkan menurut para ulama salafu as-shalih dari
mufassir, muhadits, dan ulama fiqh, berpendapat bahwa ahlu al-kitab hanya
menunjukkan kepada Yahudi dan nashrani. Pendapat ini sesuai dengan ayat-ayat
al-qur’an dan sunnah nabi.
Dan kesimpulannya Menurut ulama salafu as-shalih lah yang penulis ambil
penjelasannya. Karena ulama salaf as-shaleh adalah mereka hidup pada zaman yang
dekat dari zaman nabi saw, dan mereka lebih mengetaui dari manusi-manusia lain
yang berkaitan dengan pembelajaran islam, seperti yang di riwayatkan oleh
Bukhari dan muslim dari ‘abdillah bin mas’ud radiyallahu ‘anhu, dari nabi
shallallahu alaihi wasallam, berkata:
خير الناس قرني،
ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، ثم يجيء أقوام تسبق شهادة أحدهم بيمينه، ويمينه
شهادته).
Wallahu a’lam bi as-sowab
Judul Jurnal:
The Ahl al-kitab conception in islam:
Dialogue with religious pluralisme proponents
(مفهوم أهل الكتاب في الإسلام: الحوار مع
أنصار التعددية الدينية)
Penulis: Harda Armayanto
Email: harda@unida.gontor.ac.id
Terbit: University Darussalam Gontor, karsa: journal of social
and islamic culture, ISSN: 2442-3289 (p); 2442-8285 (e), Vol.25 No.1, June
2017, pp. 200-227
Comments
Post a Comment