PENDIDIKAN MEMPEROSES KESHALEHAN


PENDIDDIKAN  MEMPROSES KESHALEHAN
Achmad Ilham Maulana

pendahuluan
Pengajaran dan pendidikan adalah dua konsep yang berbeda yang saling melengkapai satu sama lainnya. pengajaran yang telah dilaksanakan saat ini, terlihat masih belum mampu menunjukkan keberhasilannya dalam memperbaiki karakter bangsa. Meskipn terlalu dini untuk menilai keberhasilan dari gagasan yang masih berusia muda tersebut, namun dengan melihat berbagai kasus dengan degradasi moral yang semakin marak dilakukan oleh para pelajar akhir-akhir ini.
Permasalahan moral dan karakter bangsa masih menjadi momok menakutkan bagi para orang tua. Berbagai pristiwa yang terjadi belakangan ini memperlihatkan bahwa perbaikan moral bangsa melalui pengajaran masih belum bisa mengatasinya, seperti pergaulan bebas yang tidak bisa membatasi dirinya dalam berteman sehingga mudah untuk terbawa arus lingkungan yang tidak baik, dan terjerumus dalam lingkungan narkoba, balapan liar, judi, miras, dan lain-lain.
Dengan demikian ada sesuatu yang salah dalm konsep pengajaran,karena pada umumnya sistem pengajaran adalah  hanya sebatas mengjarkan ilmu-ilmu pengetahuan kepada siswanya tanpa memperdulikan pengaruhnya pada pembentukan karakter dan prilaku siswa. Karena guru hanya sebatas menginginkan siswanya untuk pintar saja dalam menguasai ilmu-ilmu yang telah diberikannya. maka hasilnyapun siswa menjadi pintar .
Dalam dunia Pendidikan, terkhusus pendidikan dalm islam, memiliki tujuan dalam membentuk moral bangsa, yaitu dengan didasari nilai-nilai islam, yang menghasilkan adab dan akhlaq, menurut Dr. Adian Husaini,  Pendidika karakter dan nilai-nilai agamalah yang menjadi solusi dalam menciptakan moral anak bangsa, sehingga dalam pendidikan islam, akhlaq dan adab sudah merupakan model ideal karena sumber dan dasarnya sudah jelas yaitu islam.
Dengan permasalahan diatas perlu adanya solusi mengenai pengajaran sekolah yang belum bisa menanamkan kebaikan, adab, dan akhlak kepada anak bangsa, Sehingga terhindar dari peristiwa yang menghawatirkan dalam moral bangsa Indonesia.  Lalu timbulah pertanyaan, apakah beda antara pengajaran dan pendidikan? Bukankah pembelajaran disekolah disebut pendidikan, sehingga belajar berarti mendapatkan pendidikan?


Pembahasan
Dalam islam mendidik anak tidak cukup dengan mengajar saja untuk menanamkan kebaikan dalam diri seseorang. Tetapi dia harus dibimbing bagaimana mengamalkan sesuatu yang diketahuinya itu didalam kehidupan sehari-harinya, yaitu dengan pendidikan (tarbiyah)
Bukankah pembelajaran disekolah disebut pendidikan, sehingga belajar berarti mendapatkan pendidikan? Immanuel kant (1724-1804) mendefinisikan pendidikan dalam dua makna, yaitu makna khusus dan makna umum. Makna khusus pendidikan berarti pembiasaan dalam menjalankan prinsip-prinsip akhlak. Sedangkan dalam arti umum mencakup dua hal. Pertama, pengajaran dalam arti menyampaikan konsep-konsep pengetahuan; kedua, menanamkan kebudayaan dan akhlak dalam diri anak didik. Itu artinya, proses tranformasi pengetahuan saja tidak dikategorikan sebagai pendidikan, meskipun dalam arti umum.
Al-attas membedakan antara pengajaran (ta’lim) dengan pendidikan (tarbiyah). Pengajaran hanya berorientasi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan tanpa memperdulikan pengarauhnya pada pembentukan karakter dan prilaku. Sedangkan pendidikan memperhatikan kedua sisi itu dalam mencari ilmu pengetahuan. Menurut dia “ proses pencarian ilmu pengetahuan itu tidak disebut pendidikan, jika ilmu pengetahuan yang diperoleh itu tidak memiliki tujuan moral yang melahirkan atau menggairahkan apa yang saya sebut dengan adab dalam diri orang mendapatkan ilmu itu. Adab berarti prilaku yang benar yang lahir dari kedisiplinan pribadi, yang dibangun diatas ilmu pengetahuan yang memancar dari wisdom (hikmah).
Membiasakan kehidupan islam yang benar membutuhkan proses pendidikan. Karena realitas sering kali ada kesenjangan antara kefakaran seseorang dengan akhlak dan prilakunya. Mungkin sesorang memiliki khazanah pengetahuan islam yang luas, tetapi pada waktu yang sama dia memusuhi islam dan umatnya. Atau sebaliknya, ada yang pengetahuan keislamannya sederhana, tetapi konsisten apa yang diketahuinya.
Alexis carrel (1873-1944), peraih nobel bidang psikologi dari prancis, berbicara panjang tentang urgensi pendidikan. Baginya pendidikan yang berorientasi  pada pembentukan karakter akhlak menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. “keberhasilan hidup seseorang masih dimungkinkan ketika dia kehilangan sebagian dimensi hidup seperti tidak memiliki sense keindahan. Tetapi keberhasilan itu mustahil dicapai ketika tidak memiliki kepribadian akhlak.

Menrutnya, memberdayakan pengetahuan kognitif sangat penting, tetapi pembangunan karakter aklak lebih penting. “pertumbuhan akal dan pertumbuhan akhlak sama-sama penting bagi manusia. Tetapi kemorosotan akhlak akan melahirkan bencana lebih buruk, dibanding keterbelakangan akal.
Oleh sebab itu, carrel mengkritik sekolah-sekolah umum yang tidak memedulikan pendidikan akhlak. “aneh pembiasaan melakukan kebaikan tidak diajarkan disekolah-sekolah umum. Padahal, bukanlah aksiomatik, jika ia kebutuhan mendesak untuk kesusksesan hidup, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat
Ilmu tanpa di barengi proses pendidikan tidak cukup efektif membuat seseorang menjadi baik. Bahkan terkadang, tidak tahu lebih baik dari pada tahu. Karena ilmu mirip pisau bermata dua. Jika dipegang orang jahat, akan dipergunakan untuk kejahatan. Sebaliknya jika dipegang orang baik, akan dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang baik. Plato mengatakan ilmu yang disertai pendidikan yang buruk, lebih berbahaya dibanding dengan kebodohon yang tidak disertai dengan pendidikan buruk itu.
Penutup
Secara garis besar pengtahuan dan pendidikan akhlak menjadi keserasian dalam membentuk karakter bangsa yang baik, yang dilandasi dengan ilmu dan ketundukan pada ajaran dan suber-sumber islam . wallhu a’lam bi as-showab.


Comments

Popular posts from this blog

TEORI KONTEKS DAN AL-WUJUH WA AN-NADZOIR

Mengapa Gunung dalam Al-Quran disebut sebagai pasak Bumi? ; Kajian Tafsir Sains

Sensitivitas Kulit dalam Al-Qur'an; Kajian Tafsir Sains