RESENSI BUKU ( Nasihat-Nasihat C. Snock Hurgronje Semasa kepegawaiannya Kepada pemerintah Hindia Belanda1889-1936 )
Resensi
Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje, 1889-1936
( Nasihat-Nasihat C. Snock Hurgronje Semasa kepegawaiannya
Kepada pemerintah Hindia
Belanda1889-1936 )
Oleh: Achmad Ilham Maulana
Latar belakang
Sejak Belanda menanamkan kekuatannya
di Nusantara, berbagai perlawanan dilakukan orang pribumi untuk mempertahankan
posisinya dalam memegang kedaulatan ekonomi dan ideologi. Umumnya, perlawanan
dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Nusantara yang dipimpin oleh kalangan
elit muslim. Misalnya perlawanan Pangeran Diponegoro yang seorang tokoh elit
muslim, dimana dalam pertempuranya perlawanan Pangeran Diponogoro diredam Belanda dengan menelan biaya dan
korban yang sangat besar. Selain itu, ada pula perlawanan yang sangat gigih
dari rakyat Aceh yang mampu bertahan dari berbagai macam serangan Belanda.
Perjuangan rakyat Aceh merupakan perlawanan terpanjang dalam sejarah kolonial
di Nusantara.
Selain perang Diponogoro dan perang
Aceh, masih banyak perang-perang lain di Nusantara yang dipimpin oleh para
tokoh elit muslim antara lain Perang Paderi, sehingga Belanda akhirnya
menyadari bahwa kekuatan Islamlah yang menjadi penyebab munculnya berbagai
pemberontakan.
Untuk membatasi gerak umat muslim,
akhirnya pemerintah Hindia-Belanda memberlakukan pelarangan haji. Pemerintah
Hindia Belanda juga mencegat rombongan kapal-kapal Haji. Hal ini dilakukan
karena menurut beberapa pejabat Belanda, penyebab munculnya berbagai
pemberontakan di Nusantara diakibatkan oleh kalangan elit muslim yang pernah
naik Haji.
Meskipun diberlakukan pelarangan
Ibadah Haji, namun kenyataanya berbagai pemberontakan tetap terjadi. Akhirnya
pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang pejabat cerdas sebagai kepala
Kantoor voor Inlandsche Zaken (kantor untuk urusan pribumi) yang baru, yaitu
Snouck Horgronje. Melalui nasihat-nasihat Snouck Horgronje, Belanda akhirnya
berhasil meredam beragai pemberontakan pribumi, misalnya perang Aceh yang telah
berlangsung selama ratusan tahun.
Isi Buku
Hasil Nasihat-Nasihat C. Souck
Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936
Snouck Horgronje merupakan tokoh
kolonial yang telah mempelajari berbagai seluk-beluk ajaran Islam, ilmunya ia
dapatkan langsung di Makkah. Bahkan Snouck berhasil menghafal 30 Juz Al-Quran.
Lalu, apa sajakah nasihat-nasihat yang diberikan oleh Snouck Horgronje terhadap
pemerintah Hindia Belanda sehingga sukses mengkerdilkan kekuatan Islam di
Nusantara?
Buku “Nasihat-nasihat C. Snouck
Hurgronje semasa Kepegawaiannya” atau dalam edisi Gobee dan Adriaanse berjudul
Ambtelijke Adviezen van C. Snouck
Hurgronje memberikan informasi yang sangat berharga tentang nasihat-nasihat
Snouck Hurgronje kepada pemerintah Hindia Belanda terutama untuk menghancurkan
kekuatan Islam yang dianggap sebagai ancaman utama terhadap keberlangsungan
penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.
Snouck memformulasikan dan
mengkategorikan permasalahan Islam menjadi tiga bagian, yaitu ; pertama,
bidang Agama Murni. kedua, bidang Sosial Kemasyarakatan. ketiga, bidang
Politik. Pembagian kategori pembidangan ini juga menjadi landasan dari doktrin
konsep “Splitsingstheori”.
Pada hakikatnya, Islam tidak
memisahkan ketiga bidang tersebut, oleh Snouck diusahakan agar umat Islam
Indonesia berangsur-angsur memisahkan agama dari segi sosial kemasyarakatan dan
politik. Melalui “Politik Asosiasi” diprogramkan agar lewat jalur pendidikan
bercorak barat dan pemanfaatan kebudayaan Eropa diciptakan kaum pribumi yang
lebih terasosiasi dengan negeri dan budaya Eropa. Dengan demikian hilanglah
kekuatan cita-cita “Pan Islam” dan akan mempermudah penyebaran agama Kristen.
Pertama, Dalam bidang politik
haruslah ditumpas bentuk-bentuk agitasi politik Islam yang akan membawa rakyat
kepada fanatisme dan Pan Islam, penumpasan itu jika perlukan dilakukan dengan
kekerasan dan kekuatan senjata. Setelah diperoleh ketenangan, pemerintah
kolonial harus menyediakan pendidikan, kesejahteraan dan perekonomian, agar
kaum pribumi mempercayai maksud baik pemerintah kolonial dan akhirnya rela
diperintah oleh “orang-orang kafir”.
Kedua, Dalam bidang Agama Murni dan
Ibadah, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan, maka pemerintah kolonial
memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya.
Pemerintah harus memperlihatkan sikap seolah-olah memperhatikan agama Islam
dengan memperbaiki tempat peribadatan, serta memberikan kemudahan dalam
melaksanakan ibadah haji.
Ketiga, Sedangkan dibidang Sosial
Kemasyarakatan, pemerintah kolonial memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku
dan membantu menggalakkan rakyat agar tetap berpegang pada adat tersebut yang
telah dipilih agar sesuai dengan tujuan mendekatkan rakyat kepada budaya Eropa.
Snouck menganjurkan membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama dalam
hukum dan peraturan. Konsep untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh
hukum Islam adalah dengan“Theorie Resptie”. Snouck berupaya agar hukum Islam
menyesuaikan dengan adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai
kehidupan pemeluknya. Islam jangan sampai mengalahkan adat istiadat, hukum
Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya jika
sudah diadopsi menjadi hukum adat.
Warisan yang ditinggalkan Snouck Hurgronje
Tanggal 12 Maret 1906 Snouck kembali
ke negeri Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada
Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di
Oestgeest. Snouck meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, diusianya yang ke
81 tahun.
Kebesaran Snouck selalu dikenang,
dialah ilmuwan yang dijuluki “dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan
Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya,
dan Hukum-Hukumnya. Ia “berjasa” menunjukkan “kekurangan-kekurangan” dalam
dunia Islam dan perkembangannya di Indonesia. Di Rapenburg didirikan monumen
“Snouck Hurgronjehuis” untuk mengenang jasa-jasanya dan kebesarannya. Christiaan
Snouck Hurgronje, tokoh penting peletak dasar kebijakan “Islam Politiek”
merupakan “Pembaratan Islam Pribumi” kini diteruskan oleh para pewarisnya di
Indonesia yang dikenal sebagai cendekiawan Islam Liberal Indonesia.
Hindia Belanda/Hindia Timur Belanda= sebuah daerah pendudukan
belanda yang wilayah nya saat ini dikenal dengan nama republik Indonesia.
Hindia belanda di bentuk sebagai hasil dari nasionalisasi koloni-koloni
vereenigde oostindische compagnie (VOC), yang berda di bawah pemerintahan belanda
pada tahun 1880
Biodata Buku
Buku ini di terbitkan dalam
rangkaian INIS Materials yang berasal dari kerja sama studi islam-belanda
(indonesian-Netherlands Cooperation in islamic studies-INIS-) antara direktorat
perguruan tinggi agama islam, departemen agama, Jakarta dengan jurusan bahasa dan
kebudayaan asia tenggara dan oceania, Unversitas Negri Leiden, Belanda. Yang
mana rangkain terbitan ini diarahkan kepada distribusi publikasi-publikasi
penting dalam bidang studi islam di Indonesia.
Penulis dan penyusun:
E. Gobee, Mantan penasehat urusan pribumi dan mantan konsul
kerajaan belanda di jedah, meninggal bulan Desember 1954.
C. Adriaanse

Comments
Post a Comment