KEMERDEKAAN AKAL DAN HATI
Kemerdekaan Akal dan Hati
Oleh: Achmad Ilham Maulana, S.Ag
achmadilham689@gmail.com
Kemerdekaan akal mampu berfikir sesuai dengan batas kehendak manusia, mampu berfikir terhadap alam yang justru meningkatkan keimanannya. Bukan meragukan keberadaanNya dan mengkufuri keesaanNya.
Keberfikiran manusia terhadap objek dapat menghasilkan ilmu, tapi ilmu didapat atas kehendak Tuhan, tuhan yg memberikan ilmu, dengan segala kehendaknya. Tuhan memiliki dzat Aliim, serpihan dzat tersebut adalah ilmu yang tuhan berikan pada manusia, dengan diberikannya ilmu, manusia dapat berilmu sesuai proporsinya sebagai manusia.
jika manusia menentang kemu'jizatan tuhan dengan akalnya, sejatinya dimensi keilahiannya telah hilang dalam ilmunya, sehingga menjadikan akalnya tak merdeka, yang tak mampu melepas diri dari ikatan kesesatan.
Begitu juga hati, jika hati tak kunjung damai dan tenang dengan apa yang dirasanya, maka sejatinya hati tersebut telah berlabuh di tempat yang salah, dan jauh dari Tuhan. Inilah hati yang tak merdeka.
jika manusia menentang kemu'jizatan tuhan dengan akalnya, sejatinya dimensi keilahiannya telah hilang dalam ilmunya, sehingga menjadikan akalnya tak merdeka, yang tak mampu melepas diri dari ikatan kesesatan.
Begitu juga hati, jika hati tak kunjung damai dan tenang dengan apa yang dirasanya, maka sejatinya hati tersebut telah berlabuh di tempat yang salah, dan jauh dari Tuhan. Inilah hati yang tak merdeka.
Kemerdekaan hati sejatinya adalah kebebasan dalam kekufuran dan perbudakan nafsu. oleh karenanya kemerdekaan hati terletak pada keyakinan atas keesaan tuhan, kepasrahan atas kehendaknya, dan ketundukan atas perintahnya (iman), sehingga hati mampu tenang, nyaman, damai dan hidup, untuk membentengi dari kegelisahan, keraguan, dan kegelapan.
Wallahu a'lam bissowab

Comments
Post a Comment