Sang Khaliq dan Makhluk Angkuh
Apakah tuhan ada? Jika ada Tuhan mengapa Tuhan membiarkan virus Corona?
Oleh: Achmad Ilham Maulana, S.Ag
achmadilham689@gmail.com
Pertanyaan diatas adalah rangkuman dari pernyataan salah seorang perintis kelompok jaringan Islam liberal, jika disimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, jika ada mengapa mebiarkan virus Corona terjadi?
Cukup menarik untuk dikaji, dan jika diteliti lebih lanjut, adanya pernyataan tersebut bahwa Tuhan tidak ada, justru membuktikan keadaan tuhan itu sendri, jika memang Tuhan tidak ada, mengapa dia repot- repot membicarakan Tuhan tidak ada, dan juga jika memang Tuhan tidak ada, dia tak bisa membuktikan non empiris bahwa Tuhan itu tidak ada.
Logika seperti ini, bukan lagi logika Islam namun logika atheis yang selalu berprasangka buruk terhadap Tuhan, seakan-akan semua keburukan didunia ini, atau kejahatan yg ada dunia ini, bukti tuhan lalai dan tak mampu untuk berbuat apa-apa, singkatnya tuhan lemah dan Tuhan tidak ada.
Menanggapi permasalahan ini, adanya kerancuan dalam memahami konsep wujud Tuhan dan konsep ketaatan kepada Tuhan.
Tuhan itu ada, jika memang tidak ada, bisakah dia membuktikan secara non empiris bahwa Tuhan tidak ada?.
Ketiadaan tuhan bukan berarti Tuhan tidak ada, ketiadaan angin bukan berarti angin tidak ada, ketiadaan ruh, bukan berarti ruh itu tidak ada, justru itu semua ada, dan dapat dirasakan, jika menafikan sesuatu yg tak terlihat, sejatinya dia tidak memiliki akal, karena akal tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan fungsinya.
Inilah yg disebut dengan kebodohan yag berkelanjutan, worldview barat dipakainya untuk memahami konsep Tuhan dalam Islam, ibarat membelah kelapa dengan kater (atau pisau kecil), ibarat memotong semangka dengan gergaji, justru ini tidak bisa disamakan, semua ada proporsinya masing-masing, tidak semua ilmu bisa masuk begtu saja mengkaji tuhan dalam Islam, semua ada alat dan pisau khusus untuk mengkajinya.
Kemudian konsep ketaatan kepada tuhan, kalo memahami dengan benar, seharusnya mereka malu, dan bertaubat. Tuhan memberikan cahaya kepada hambanya namun hambanya selalu menutup cahaya tersebut, dan sampai kapanpun tuhan selalu memberikan sinarnya kepada hambanya, namun hambanya selalu menutup hati untuk menerima cahaya itu.
Tuhan meberikan syari'at, untuk dijadikan jalan agar manusia selamat didunia dan diakhirat. Pertanyaan nya apakah manusia mengikuti jalan tersebut? Apakah manusia taat dengan tuhannya? Seberapa sombongkah manusia yang tak mau mengikuti perintah dari sang penciptanya? Seberapa pintar manusia sehingga menafikan perintah Tuhannya? Sehingga membuat syariah sendiri untuknya? Lalu jika sudah tak taat kepada Tuhan, dan sudah menerima keburukan dari yg dilakukan nya, apakah layak manusia demikian menyalahkan Tuhan? Dan lebih laknatnya lagi mengatakan tuhan tak mampu berbuat atau lemah? Dan lebih parah lagi Tuhan tidak ada.
Adanya virus Corona bukti dari banyaknya manusia yang tak mau menerima cahaya dari Tuhan, sehingga dengan keangkuhanya dan kebodohannya, timbullah keburukan termasuk virus Corona yang menimpanya karena hasil dari apa yg dilanggarnya kepada Tuhan.
Dan sebelum adany virus Corona, tuhan sudah mengingatkan kepada hambanya dengan melalui syariatnya, dan Sunnah nabinya, itu lah peran tuhan.
Bukan Tuhan tidak berperan terhadap Corona justru bukti tuhan berperan itu adanya virus Corona, karena virus tersebut hasil dari pengabaian perintah Tuhan yg dilakukan oleh manusia yang acuh atas perintahnya.
Inilah kekeliruan yg selalu berprasangka buruk terhadap Tuhan, dan pemikiran seperti ini justru mendorong dirinya dalam kekufuran.
Wallahu a'lam bissowab.

Comments
Post a Comment