JILBAB IDENTITAS MUSLIMAH

JILBAB  IDENTITAS MUSLIMAH

Oleh: Achmad Ilham Maulana, S.Ag
achmadilham689@gmail.com



Keshalehan seorang muslim tidak terlepas dari keshalehan  jasadiyyah dan keshalehan  ruhiyyah. keshalehan jasadiyyah akan berbuah pada keimanan, begitu juga sebaliknya keimanan seseorang akan  berbuah pada akhlak (akhlak pada Tuhan, akhlak pada diri sendiri dan akhlak pada sesama makhluk tuhan).

jika ada yg memisahkan kebaikan ruhiyyah dan kebaikan jasadiyyah, maka dapat dikatakan dia telah merusak komponen-komponen keimanan.

Fenomena saat ini adanya kesesatan intelektual,  menghalalkan jilbab untuk tidak memakainya, seperti slogannya: "memakai atau tidak memakai jilbab, bukan sebagai ukuran disebut baik dan shalehahnya seorang muslimah."

pernyataan tersebut sangat lembut dan masuk akal, tapi pada hakekatnya justru menggerus keimanan muslimah sehingga berdampak pada keraguan terhadap syariat Islam. Karena jilbab dalam Islam adalah ma'lumun Minad din bidharuri (sudah jamak dan lumrah diketahui orang tidak perlu d perdebatkan)

jilbab bukan sebagai ukuran seorang muslimah dianggap shalehah, tapi setidaknya seorang tersebut telah melakukan satu kebaikan dan menunjukan identitas keislamannya. Karena jilbab adalah budaya Islam (bukan budaya Arab jahili).

logika seperti contoh tersebut, adalah  mendikotomik antara eksistensi dan esensi dalam beribadah. seorang muslimah berjilbab, itu adalah salah satu proses penyempurnaannya dalam berislam, menuju keimanan atau dapat di katakan proses kemauan dengan kemampuannya untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslimah yang baik  .

Jumhur ulama menyatakan wajib memakai jilbab (tentunya bagi muslimah). dan jilbab bukan budaya Arab jahili.  jilbab adalah salah satu identitas peradaban Islam yang sangat memberi penghormatan pada wanita, agar tercegah dari para pezina,  oleh karenanya orang ber jilbab bukan sekedar menutup rambut kepala, tapi berjilbab bentuk seseorang menunjukan perhormatan atas dirinya sebagai wanita dan tentu juga identitas sebagi muslimah (ke islamnnya) dan juga salah satu bentuk  ketaatannya sebagai hamba kepada  sang pencipta (keimanannya). 

Inilah yang disebut dengan beragama dalam tingkatan Islam dan iman. Jika seorang muslim Islamnya sempurna akan berbuah keimanan, dan jika seorang muslim telah beriman maka akhlaklah yang akan menghiasi dirinya. Maka tentunya, orang yang berakhlak tidak akan rela jika auratnya dijadikan konsumsi bagi para pezina mata, karena sejatinya seorang yang tidak berjilbab menjadikan dirinya budak nafsu bagi para pezina dan melupakan ketundukannya sebagai hamba dari sang berkehendak.

Dan orang yang bergelut dan mencari dalil atas ketidakwajiban menggunakan jilbab, yang berdampak pada keraguan umat dalam bersyariat. sejatinya dia telah menyeret diri sendri dalam lautan kemaksiatan dan membuka pintu pintu kemungkaran. 

Wallahu a'lam bi as-showab

Comments

Popular posts from this blog

TEORI KONTEKS DAN AL-WUJUH WA AN-NADZOIR

Mengapa Gunung dalam Al-Quran disebut sebagai pasak Bumi? ; Kajian Tafsir Sains

Sensitivitas Kulit dalam Al-Qur'an; Kajian Tafsir Sains