APAKAH SABAR ADA BATASNYA?



Apakah sabar ada batasnya?
Oleh: Achmad Ilham Maulana, S.Ag

Pendahuluan

Akhir akhir ini ada fenomena yang cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut, ada salah satu cendikiawan muslim berpendapat bahwa kesabaran seorang istri ada batasnya terhadap suami.
Pendapat tersebut disampaikan didepan para jama'ahnya ketika sedang mengisi ceramah di masjid. Seperti yang disampaikannya sebagai berikut: "Ketika istri telah mendapat permasalahan yang berat dari suami, dan suami selalu mengulang kesalahannya, maka haruslah istri meminta talak kepada suaminya, karena sabar ada batasnya ", begitulah imbuhnya.

Talak dan sabar,  itu dua konsep yang berbeda  dan talak tidak bisa dijadikan sebagai dalil dan perumpamaan, untuk ukuran kesabaran seseorang, yang dengannya berkesimpulan kesabaran itu ada batasnya.

Pernyataan tersebut membuat  penulis bertanya tanya,  Apakah orang yg tidak bersabar itu dapat dikatakan orang bersabar ? Dan apakah talak dapat dijadikan ukuran atau batasan bagi orang yg bersabar?

Pada kesempatan kali ini penulis mengambil dua permasalahan yag terdapat dari pernyataan tersebut, pertama kerancuan dalam memaknai sabar itu sendri yang dengannya merelatifkan esensi dari kesabaran, kedua, talak menjadi sebab atau alasan dari adanya keterbatasan dalam bersabar.


sabar itu Indah

Pernyataan sebelumnya, secara tidak langsung menyatakan bahwa, kesabaran dapat diukur atau dibatasi oleh ketidaksanggupan seseorang terhadap permasalahan yang menimpanya, sehingga terkesan orang yang bersabar akan berbuah dengan keputus asaan, (terhadap masalah yang menimpanya) Yang berdampak memicu pensyari'atan  dalam berputus asa, (seakan-akan berputus asa itu dianjurkan dan sebagai bukti dari batasan seseorang dalam bersabar).

Ketika berbicara tentang kesabaran maka tidak terlepas untuk berbicara tentang mental, jiwa, hati yang melekat dalam dirinya. ketika kesabaran dibatasi dengan ketidaksanggupannya (dengan permasalahan),  pada hakikatnya dia belum merasakan esensi dari indahnya kesabaran (shobrun Jamiil). Seperti yang dikatakan oleh salah satu ulama yang berkarismatik di Indonesia Allah yarhamuh: "Bersabar itu indah, karena sabar dapat menyelesaikan kekusutan hati dan menyerah diri kepada tuhan dengan sepenuh- sepenuh kepercayaan, yang dengannya berbuah dengan kenikmatan " (Prof Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 5, h, 3700).

Esensi dari kesabaran adalah ridho (dengan ketetapannya), ikhlas, tabah dan selalu bermunajat kepada sang penyayang. Jika seseorang benar-benar bersabar, sejatinya dirinya merasa dilindungi oleh sang maha pelindung,  karena sabar adalah penolong bagi dirinya, tameng bagi jiwanya  dan benteng bagi hatinya untuk menghindari dari keputus asaan dalam mengahadapi kesulitan. Bukti seorang bersabar adalah setiap ada kesulitan yang menimpanya, selalu dia limpahkan dalam sujudnya, selalu ingin berdekatan kepada sang maha pemurah. (Thabari, Jami' Al-Bayan an Ta'wil Al Qur'an, Juz 1, h, 671)

Seperti dalam firman Allah : "Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu." (QS. Al-Baqarah, 45).


Talak (perceraian)

Apakah perceraian  salah satu ukuran dari batas kesabaran seseorang ?

Talak bukanlah menjadi sebab ukuran kesabaran seseorang, tapi talak adalah jalan ikhtiyar seseorang dalam bersabar.
Ikhtiyarnya seseorang dalam menghadapi permasalahan yang dihadapinya, bukti dari kesabaran dirinya terhadap ketetapan yang tuhan berikan . Karena bersabar bukan berarti  tidak melakukan apa-apa atau pasif. Justru dengan bersabar dan ridho atas ketetapannya, seorang dapat berikhtiar atau berusaha mencari jalan yang terbaik dari hasil munajatnya kepada tuhan.

Seseorang yang berikhtiar dengan kesabaraannya yang selalu bermunajat kepada tuhan, jika talak hasil dari ikhtiarnya maka itu adalah hasil dari usaha dalam doanya.

Talak bisa jadi hasil dari ikhtiyar seseorang dalam kesabarannya, tapi talak bukan dijadikan solusi utama dalam menyelesaikan permasalahan keluarga, walaupun talak halal namun talak adalah perkara yang di benci tuhan.


Kesimpulan

Dari penjelasan diatas ada beberapa kesimpulan yang dapat penulis simpulkan bahwa kesabaran adalah, ketulusan hati untuk lebih bermunajat kepada tuhan, jika seseorang berkata sabar ada batasnya maka sejatinya dia telah keluar dari lingkaran kesabaran.
Dalam bersabar seorang tidak hanya diam (pasif) atau tidak melakukan apa-apa atas masalah yang menimpanya, justru dengan bersabar seorang dapat berikhtiar dengan selalu bermunajat kepada tuhan. Karena manusia dapat merencanakan  kehidupannya dengan selalu meminta yang terbaik kepada tuhan yang maha berkehendak.

Wallahualam bishowab

Comments

Popular posts from this blog

TEORI KONTEKS DAN AL-WUJUH WA AN-NADZOIR

Mengapa Gunung dalam Al-Quran disebut sebagai pasak Bumi? ; Kajian Tafsir Sains

Sensitivitas Kulit dalam Al-Qur'an; Kajian Tafsir Sains